Bacaan Alkitab, Jumat, 17 Juli 2026 :
“Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi! Sebaliknya, ke dalam dunia orang mati engkau diturunkan, ke tempat yang paling dalam di liang kubur”. (Yesaya 14:12-15)
Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini, kita menemukan ayat (Yesaya 14:12-15) yang menimbulkan pertanyaan bagi banyak orang. Siapakah Bintang Timur Putra fajar dalam ayat ini? Apakah dia yang kemudian disebut “Lucifer” atau Iblis yang karena kesombongannya dia diusir dan dibuang ke bumi?
Pembaca SRHI yang dikasihi Tuhan, nama Lucifer sering dipahami sebagai nama lain untuk iblis atau setan. Identifikasi ini memiliki sejarah panjang di gereja, setidaknya sejak abad keempat. Asal usulnya sebenarnya berasal dari sebuah bagian dalam Perjanjian Lama dari kitab Yesaya (Yesaya 14) yang bagi sebagian orang, berbicara tentang seseorang yang diusir dari surga karena kesombongannya ingin mengatasi bintang-bintang Allah.
Dalam teks asli Kitab Yesaya 14:12, kata “Bintang Timur Putra Fajar/Lucifer” sebenarnya merujuk kepada Raja Babel, bukan malaikat yang jatuh. Istilah ini berasal dari bahasa Latin Lucifer (artinya “pembawa cahaya” atau “bintang fajar”) yang dipakai untuk menerjemahkan kata Ibrani asli, yakni Helel. Yesaya pasal 14 berisi sebuah nubuatan yang mengejek kejatuhan raja Babel. Raja Babel digambarkan sebagai “bintang fajar” yang sombong, yang jatuh karena ambisinya untuk menyamai Allah. Kesombongan Raja Babel dipandang sebagai cerminan dari dosa kesombongan malaikat tertinggi yang memberontak terhadap Allah.
Bentuk keangkuhan terbesar raja Babel ini (Raja Nebukadnezar) adalah ia mengklaim bahwa segala kemegahan kerajaannya adalah hasil jerih payahnya sendiri untuk memuliakan dirinya, bukan karena berkat atau pemberian Tuhan. Ia pernah berkata, “Bukankah ini Babel yang besar, yang telah kubangun sendiri dengan kekuatan kekuasaanku dan untuk kemuliaan kebesaranku?” (Daniel 4:30).
Karena penolakan dan keangkuhannya itu, Allah merendahkannya melalui hukuman yang berat: Kehilangan Kewarasan: Nebukadnezar diusir dari antara manusia dan kehilangan akal sehatnya. Dia Hidup Seperti Binatang: Ia mulai memakan rumput di padang seperti lembu dan tubuhnya basah oleh embun dari langit. Penampilanya berubah: Rambutnya tumbuh panjang seperti bulu burung rajawali dan kukunya seperti kuku burung kuku.
Hukuman tersebut berlangsung sampai ia menyadari dan mengakui bahwa “Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” Setelah masa hukuman itu berakhir, Nebukadnezar memulihkan akal budinya dan ia mengangkat serta memuliakan Raja Surga. Ia akhirnya belajar bahwa semua perbuatan-Nya adala benar dan jalan-jalan-Nya adalah adil, serta Ia sanggup merendahkan mereka yang berjalan dalam congkak. (Daniel 4).
Pembaca SRHI yang dikasihi Tuhan, mari selalu mengingat firman Tuhan yang menyatakan: “…Allah menentang orang yang sombong, tetapi memberikan kasih karunia kepada orang yang rendah hati.” (Yakobus 4:6).
“Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” (Amsal 16:18).
Amsal 8:13: “Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.” (Amsal 8:13)
(JET17072026)
Pokok Doa SRHI GBIK
Jumat, 17 Juli 2026
- Berdoa untuk jemaat GBIK, terutama Remaja dan Pemuda / Pemudi supaya dapat menjaga diri dari pergaulan yang tidak baik dan tetap menjaga kekudusan di hadapan Tuhan.
- Berdoa untuk para pelayan Tuhan yang akan melayani di ibadah doa fajar. Doakan kesetiaan jemaat untuk hadir berdoa bersama di Ibadah Doa.
- Doakan untuk program kesehatan di Indonesia bisa dirasakan di seluruh wilayah Indonesia dan merata sampai ke daerah-daerah terpencil dapat terlayani dengan baik.
Pokok Doa untuk Cabang Purwonegoro, Jawa Tengah
- Berdoa untuk sumber mata pencaharian jemaat, baik pekerjaan maupun usaha yang dilakukan supaya dicukupkan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari;
- Doakan untuk setiap Ibadah, dan persekutuan-persekutuan agar jemaat dan simpatisan dapat mendukung dan mengikutinya;
- Berdoa untuk pelayanan Pdm. Eko Mugi Kristianto supaya Tuhan memberikan kesehatan, hikmat dan kemampuan dalam menggembalakan Jemaat Cabang Purwonegoro.

