Bacaan Alkitab, Senin, 20 Juli 2026
Ketika kita melihat tayangan-tayangan di media sosial mengenai korupsi eks Kejagung maupun Dana Bansos, maka reaksi kita akan marah bercampur sedih. Namun kemarahan dan kesedihan tersebut akan terlupakan ketika kita scroll tayangan lain yang lucu atau bahkan menggembirakan seperti kemenangan Argentina atas Inggris di Piala Dunia 2026 ini. Dan hal tersebut memberikan kita sebuah gambaran nyata bahwa “kepedulian manusia mudah dilunturkan oleh ilusi mata”. Dan ribuan tahun lalu Yesaya melihat hal yang serupa terjadi di kota Yerusalem.
Pada waktu itu Yerusalem mengalami hal yang tidak mengenakkan dimana mereka dikepung oleh musuh yang mengancam nyawa mereka. Namun respon masyarakat Yerusalem sungguh diluar nalar; mereka malah berpesta dengan naik ke atap rumah sembari melihat para musuh mengepung mereka. Reaksi pesta tersebut bukan sukacita yang sehat, itu adalah sukacita yang lahir dari keputusasaan yang mati rasa. Mereka tahu mereka terancam, tapi karena tidak tahu harus berbuat apa, mereka memilih sengaja menutup mata, mematikan rasa empati, dan bersenang-senang sampai ajal menjemput mereka. Mereka meresponi dengan tawa agar realita penderitaan dapat tergantikan. Dan ternyata hal ini sama dengan kecenderungan kita di media sosial yang mudah terbolak-balikan perasaan sehingga akhirnya kita cenderung hanya melihat realita penderitaan sesama sebagai “tontonan saja”. “Ketika kita melihat kesedihan orang lain, kita menjadi terenyuh; namun sesaat kemudian hal itu terhilang dan digantikan oleh tawa yang kita dapatkan dari video lucu. Bukankah dengan hal tersebut akhirnya rasa “kepeduliaan” kita disamarkan oleh dunia? Bukankah akhirnya kita memiliki kecenderungan untuk “mengaburkan kepeduliaan” karena rasa tersebut hanya timbul sesaat saja? Dalam kisah ini, Yesaya sedang mengalami pertentangan batin dengan mayoritas orang Yerusalem yang telah mati rasa terhadap realita.
Yesaya berkata “palingkanlah pandanganmu daripadaku, biarkanlah aku menangis dengan pahit; janganlah mendesak aku supaya aku dihibur – Yes. 22:4.” Yesaya muak dengan reaksi orang-orang pada saat itu yang berusaha denial terhadap realita. Mereka menjadikan krisis dan ancaman di sekitar mereka sebagai tontonan. Mereka ingin jadi penonton, bukan pelaku yang memikirkan solusi atau bertobat. Yesaya mengajarkan kita sesuatu yang berarti yaitu kewarasan spiritual. Yesaya memberikan reaksi yang kontras dengan mayoritas orang pada saat itu; “ia tidak mau dihibur”. Lantas apa maksudnya? Maksud dari tindakan Yesaya adalah ia berani mengambil jeda dari kebisingan dunia yang pura-pura bahagia, demi merasakan kepedihan orang lain secara nyata. Yesaya memilih untuk menjaga hatinya tetap lembut dan ia tidak mau menjadi “zombi moral” yang mati rasa; yang paham ketika orang lain mengalami penderitaan tapi hanya dijadikan tontonan, yang mengerti ketika orang lain mengalami kesedihan namun tidak menolong untuk membawa mereka keluar dari kesedihan dan yang melihat ketika orang lain sedang mengalami kesusahan tapi hanya empati sesaat dan mudah melupakan.
Yesaya tidak berada didalam realitas palsu itu; ia berdiri pada kondisi hati yang jujur dihadapan Tuhan untuk merasakan gambaran nyata kehidupan. Sehingga kepeduliaan Yesaya tidak hanya berhenti pada “perasaan” namun dapat melahirkan “kesadaran” dan “perbuatan”. Yesaya 22:4 mengingatkan kita bahwa kehilangan empati adalah tanda pertama bahwa jiwa kita sedang mati. Sehingga dengan hal tersebut maka kita sebagai orang percaya masa kini perlu untuk berhati-hati agar tidak terjebak pada “tawa palsu” yang dapat mengaburkan rasa peduli, simpati dan empati.
“Jangan sampai kepeduliaan kita hanya sebatas perasaan saja; namun biarlah kepeduliaan kita melahirkan tindakan yang nyata”
Sekali lagi Yesaya mengajarkan kita untuk tidak berada diarus dunia yang berusaha tertawa atas realita sehingga kepeduliaan mereka menjadi mati rasa. Biarlah kita dapat memilih untuk tidak berada didalam “pesta atap rumah” dan dapat membiarkan mata hati kita mudah tergantikan oleh kefanaan dunia. Mari kita renungkan kembali, apakah kita berada diposisi Yesaya untuk melihat realita dari kacamata jujur dan terbuka sehingga dapat melahirkan kepedulian yang nyata? Atau malah berada didalam “pesta atap rumah” sehingga cara pandang kita terhadap realita mudah tergantikan oleh tawa palsu yang dibuat hanya untuk memuaskan kesenangan sesaat saja.
Tuhan Yesus memberkati
YG200726
Pokok Doa SRHI GBIK
Senin, 20 Juli 2026
- Mendoakan agar setiap panitia dan organisasi di GBIK melayani dengan hati yang tulus, penuh kasih dan sukacita, sehingga dapat menjadi berkat bagi seluruh jemaat.
- Berdoa untuk lingkungan yang ada di sekitar Gereja agar dapat menjaga keamanan, ketenangan dan ketertiban pada saat ibadah berlangsung baik pada saat Ibadah Minggu maupun acara Persekutuan lainnya.
- Doakan gereja-gereja di Indonesia, agar tetap setia memberitakan Injil, menjadi terang dan garam, serta membawa dampak yang baik bagi masyarakat dan bangsa.
Pokok Doa untuk Saudara Angkat – GBI Sion Jember
- Berdoa supaya Tuhan memberkati mata pencaharian Jemaat, baik pekerjaan maupun usaha yang dilakukan sehingga jemaat dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
- Doakan supaya Jemaat yang sudah lama tidak berbakti di GBI Sion Jember dapat kembali beribadah di Gereja dan Tuhan tambahkan jiwa-jiwa yang baru.
- Doakan pelayanan Bpk. Kharis Setiawan supaya diberikan kesehatan, hikmat dan kemampuan dalam menggembalakan jemaat GBI Sion Jember.

