Bacaan Alkitab, Senin, 17 Agustus 2026
“Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat, supaya mereka hidup menurut segala ketetapan-Ku dan peraturan-peraturan-Ku dengan setia; maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka.”
Yehezkiel 11:19-20
Ditengah ironi yang digambarkan dalam Kitab Yehezkiel terdapat satu momen indah dari Allah saat ketika Ia memberikan “hati yang baru” kepada orang-orang yang dikasihi-Nya. Namun sebelum membahas mengenai “hati yang baru”, setidaknya ada 3 ironi yang terjadi disaat itu yang dapat menggambarkan kehidupan kita sebagai manusia yang acapkali tidak setia kepada Sang Ilahi. Dan 3 ironi tersebut menjadi titik pesan Allah bagi kita, umat yang dikasihi-Nya.
Pertama, kehancuran Yerusalem. Ironi ini memberi sebuah pesan berarti yaitu bahwa kita tidak boleh “berada dalam perasaan aman yang dapat membuat dosa terasa legal dan aman”. Maksudnya adalah seperti Israel yang merasa bahwa Allah bersama dengan mereka karena Bait Allah berada diantara mereka (shekkinah) sehingga mereka merasa bahwa “mereka aman karena ada Allah yang menjaga” sampai pada satu titik akhirnya mereka menyalahgunakan perlindungan aman tersebut untuk berlaku seenaknya dihadapan Sang Pencipta. Israel merasa aman karena bangsa yang dalam tanda kutip disertai Allah “mana mungkin akan kalah?”; mereka sombong secara rohani dan menganggap kasih karunia Allah sebagai kartu legal untuk berlaku seenaknya dihadapan Sang Pencipta. Bukankah terkadang kita juga berada pada sisi Israel yang seringkali menyalahgunakan “perasaan aman” karena Allah sudah menjamin keselamatan untuk melakukan dosa dan pelanggaran? Bukankah perilaku kita terkadang seakan memberi kesan “pelanggaran adalah kewajaran karena kita masih memiliki kedagingan”? bukankah kita terkadang terlalu nyaman dalam “perasaan aman” sehingga kita tidak dapat lagi berjaga-jaga dalam menjalani kehidupan? bukankah kita pernah melupakan Allah ketika kita memiliki “perasaan aman” oleh karena pekerjaan, pasangan maupun jabatan?
“Allah memberi rasa aman karena Ia mengasihi dan peduli. Namun bukan berarti kita bersembunyi dibalik rasa aman yang diberikan untuk melakukan pelanggaran.”
Kedua, kehancuran Bait Allah. Memang secara fakta biblikal Bait Allah tidak hancur pada pasal 11, namun pasal 11 memberi sebuah gambaran yang menyakitkan bagi bangsa yang sedang “merasa aman” bahwa nantinya Allah akan meninggalkan mereka karena dosa mereka. Israel berdosa dihadapan Allah karena mereka ternyata menyembah berhala didalam Bait Allah. Bukankah ironi yang dilakukan Israel juga pernah kita lakukan dihadapan Sang Pencipta? Kita seringkali terjebak mengagungkan identitas keagamaan, rutinitas pelayanan, atau atribut fisik gereja, namun hati kita mati dan jauh dari kasih Allah. Bukankah kita juga pernah berada dalam fase dimana “Allah diduakan” oleh karena pesan WhatsApp yang masuk ketika khotbah sedang disampaikan? Atau notifikasi online shop yang menggiurkan sehingga akhirnya poin-poin khotbah teralihkan?
“Kadangkala kita tidak sadar bahwa kita sedang mendua dihadapan Sang Pencipta. Bahkan ini seringkali terjadi ditempat kudus-Nya. Sebuah ironi yang mengecewakan.”
Ketiga, perasaan ditinggalkan. Saat ketika akhirnya kita merasa berdosa dan mengakui semuanya; saat itulah kita merasa tidak layak lagi dihadapan-Nya. Kita merasa kita bukan lagi pribadi yang dikasihi-Nya dan pantas untuk ditinggalkan begitu saja. Namun ternyata Allah tidak hanya berdiri pada posisi hakim untuk mengadili dan mendisiplinkan kita, namun Ia juga berdiri sebagai Bapa yang mengasihi anak-anak-Nya.
“Ternyata kita tidak ditinggalkan walau kita telah menyakiti hati-Nya. Ternyata Ia mengasihi kita.” Israel memang dibuang ke Babilonia dan pembuangan ke Babilonia terasa seperti hukuman mati dan bukti bahwa Allah telah membuang mereka. Namun ternyata ditanah pembuangan yang jauh dari megahnya Yerusalem, Allah justru melawat mereka sebagai “tempat kudus yang sedikit” (Yehezkiel 11:16) dan memberi mereka janji hati yang baru.
“Titik terendah dalam hidup sering kali terasa seperti pengasingan. Kita merasa diabaikan oleh Allah, dipisahkan dari kenyamanan, dan dibuang oleh lingkungan saat mengalami kegagalan besar. Namun disaat itulah Allah sedang berusaha memberi jarak antara kita dengan kenyamanan semu yang dunia tawarkan agar kita tidak terpatri padanya.
3 ironi pembahasan SRHI hari ini kiranya dapat menjadi perenungan bagi setiap insan yang dikasihi oleh Sang Ilahi. Perenungan ini tidak untuk menghakimi namun untuk memperlengkapi dan menyingkapkan setiap kedagingan yang terkadang “nyelip” dalam ranah kerohanian kita.
Tuhan Yesus memberkati
(YG170826)
Pokok Doa SRHI GBIK
Senin, 17 Agustus 2026
- Doakan Jemaat GBIK yang sedang menikmati liburan bersama dalam Rangka HUT RI ke 81 supaya dapat merayakan di tengah-tengah masyarakat tempat tinggal masing-masing, dapat bersosialisasi dengan baik dan memuliakan nama Tuhan.
- Berdoa untuk persiapan memperingati HUT GBIK ke 63, Tuhan memberkati Panitia yang telah menyusun acara supaya dapat terlaksana dengan baik dan menjadi berkat bagi setiap orang yang hadir serta nama Tuhan dipermuliakan.
- Berdoa supaya Pemerintah Indonesia, baik di daerah maupun di pusat serta lembaga terkait supaya dapat segera menolong korban Gempa Bumi di NTT. Doakan para korban tetap Tuhan beri kekuatan, kesabaran dan penghiburan.
Pokok Doa Cabang Sekadau, Kalimantan Barat
- Doakan Jemaat yang sedang sakit : Ibu Shopia Sidey yang sakit kanker dan Jemaat lainnya yang dalam pemulihan kesehatan supaya Tuhan Yesus jamah sehingga dapat sembuh.
- Doakan proses pembangunan konopi depan pintu masuk Pastori supaya air hujan tidak masuk rumah.
- Berdoa untuk Pdt. Sebunbia beserta Keluarga supaya Tuhan memberikan kesehatan, hikmat dan kemampuan dalam melayani jemaat, mengunjungi jemaat yang sakit dan yang sudah lama tidak ke gereja serta tetap semangat melakukan penginjilan.
