Bacaan Alkitab, Senin, 31 Agustus 2026
“Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.” (Daniel 9:3)
Kita hidup didunia yang sangat melelahkan; dunia yang menuntut kita untuk selalu tampak sempurna, berhasil dan tak pernah salah. Sehingga kita akhirnya memakai “topeng kebenaran” untuk pertahanan diri agar tidak terlihat lemah atau dinilai gagal oleh dunia. Bahkan ketika terjadi keretakan hubungan, kegagalan dalam pekerjaan atau kekacauan dalam hidup; seringkali kita bereaksi untuk mencari siapa yang bisa disalahkan. Kita menunjuk orang lain, menyalahkan keadaan bahkan tidak sedikit yang akhirnya menyalahkan Tuhan. Tanpa sadar kita sedang memelihara luka dengan terus mengeraskan hati dan mengingkari fakta bahwa “kita bisa melakukan dosa dan kesalahan dan melukai hati Tuhan.”
“Jika kita terus menerus mencari kambing hitam atas kesalahan yang terjadi, maka kita tidak akan pernah dapat mengalami pemulihan yang memerdekakan jiwa dan mengalami damai sejahtera.”
Dalam Daniel 9:5–6 kita menemukan kejujuran atas kesalahan dan kemampuan untuk mengakuinya dihadapan Tuhan. Daniel melakukan itu bukan hanya karena ia adalah pemimpin, tapi karena ia memiliki hati yang penuh dengan kasih dan kepedulian. Daniel berlutut sampai lututnya gemetar; ia bersujud dan menangis bukan untuk menghakimi bangsanya yang tegar tengkuk, melainkan untuk membawa beban dan kesalahan yang mereka lakukan.
“Kesadaran diri atas keberdosaan akan membuat kita mampu untuk menjadi pribadi yang rendah hati dihadapan Sang Ilahi. Bahkan akhirnya kita mampu untuk mengakui kesalahan dan tidak akan membuang waktu untuk membela diri dihadapan Tuhan.”
Luka tidak akan pernah sembuh jika kita terus berpura-pura bahwa kita tidak terluka atau tidak pernah melukai. Rumah tangga tidak akan pulih jika kedua belah pihak bertaruh ego siapa yang paling benar. Hubungan yang retak tidak akan membaik jika tidak ada yang berani berbisik “maafkan aku, aku juga salah.” Pemulihan tidak akan terjadi jika kita terus menerus memakai ego diri untuk meresponi kesalahan dan selalu bertahan dalam pembenaran diri sendiri agar tidak terlihat salah dihadapan dunia. “Pemulihan membutuhkan keterbukaan dan pengakuan atas kesalahan dihadapan Tuhan.” Daniel sadar bahwa pemulihan tidak akan pernah terjadi selama manusia masih menyembunyikan dosanya di balik rasa bangga atau alasan pembenaran. Daniel tidak mendasarkan doanya pada kebaikan atau kesalehan pribadi, namun pada “belas kasihan-Mu yang besar” (Daniel 9:18). “Saat kita berani mengakui kesalahan, kita sedang berhenti mengandalkan kebenaran diri sendiri dan mulai bersandar penuh pada kebaikan Tuhan.” Sebuah pesan penutup untuk kita ingat bersama bahwa “Tuhan pasti memaafkan, tetapi perihal pemulihan; kita perlu untuk mengambil tindakan mengakui kesalahan dan mengakuinya dihadapan Tuhan.”
Tuhan Yesus memberkati
YG310826
Pokok Doa SRHI GBIK
Senin, 31 Agustus 2026
- Doakan persiapan pernikahan Dio Prakoso dengan Corry Fiani Angelia pada tanggal 12 September 2026 dan Previanto Pradipta dengan Elvania Andhika Putri pada tanggal 10 Oktober 2026.
- Berdoa untuk pelayanan Paduan Suara GBIK : Excelsis Deo, Voice of Joy, Padus Remaja, GLS, Karawitan, dll, Tuhan memberkati dengan semangat, kekompakan dan hati yang rindu untuk melayani.
- Berdoa untuk korban bencana alam, baik dalam negeri (gempa bumi di NTT) maupun di luar negeri (banjir bandang di Nepal-Tibet) yang menyebabkan banyak korban meninggal dunia dan hilang.
Pokok Doa untuk Cabang Way Jepara, Lampung Timur
- Berdoa untuk mata pencaharian Jemaat, baik pekerjaan maupun usaha yang dilakukan supaya Tuhan memberkati sehingga segala kebutuhan jemaat dapat tercukupi;
- Doakan untuk proses pemasangan KwH Meter Gereja menjadi sosial dengan daya 5.500 VA.
- Doakan pelayanan dan kesehatan Pdt. Yulius Eko Imanuel dan Keluarga, kiranya Tuhan memberikan hikmat dan kemampuan untuk menggembalakan jemaat di Cabang Way Jepara, Lampung.
