Bacaan Alkitab, Senin, 7 September 2026
“Bangunlah, hai pemabuk, dan menangislah! Merataplah, hai semua peminum anggur karena anggur baru, sebab sudah dirampas dari mulutmu anggur itu!” (Yoel 1:5).
Ketika Gunung Anak Krakatau erupsi dan mengeluarkan abu vulkaniknya, ketika banjir bandang terjadi di Nepal dan China atau ketika karhutla melanda berbagai wilayah di Indonesia; kita sering kali melihatnya hanya dari kacamata yang didasarkan pada logika. Namun, melalui Kitab Yoel 1:2–12 kita diajak untuk melihat lebih dalam untuk menilai apa yang sedang terjadi dari kacamata Ilahi. Melalui wabah belalang dan kekeringan yang menghancurkan seluruh negeri; Yoel menegaskan sebuah pesan yang tajam: bencana adalah cara Tuhan menyapa, menegur, dan membangunkan manusia dari tidur panjang kesombongan rohani.
Seringkali kita menjadi “tuli” terhadap suara Tuhan ketika kita sedang disibukkan dengan kejayaan, jabatan, keuangan yang aman maupun penguasaan terhadap ilmu pengetahuan. Bahkan tidak jarang kita hanya melihat apa yang sedang terjadi melalui kacamata fakta yang didasarkan pada logika hingga akhirnya kita tidak bisa instropeksi diri terhadap dosa-dosa tersembunyi yang tidak kita sadari.
Ketika erupsi gunung berapi atau krisis ekologi terjadi, Tuhan seolah-olah mengetuk keras kesadaran kita agar kita perlu mengingat siapa yang memegang kendali atas alam semesta ini. Bencana adalah teguran-Nya agar manusia menghentikan kebebalan, keserakahan dan ketidakpatuhannya terhadap perintah Tuhan. Tuhan tidak memakai bencana karena Ia ingin melihat manusia menderita, melainkan sebagai panggilan darurat saat ketika hati manusia sudah terlalu keras untuk mendengar bisikan kasih-Nya melalui keadaan yang normal dan baik-baik saja.
“Bangunlah, hai pemabuk, dan menangislah! Merataplah… karena anggur manis, sebab sudah dirampas dari mulutmu!” – Yoel 1:5. Mengapa Tuhan menegur dengan cara merampas hasil bumi dan kenyamanan? Karena manusia sering kali menjadikan kenyamanan, kekayaan, dan hiburan dunia sebagai “tuhan-tuhan kecil” mereka. Pemabuk dalam konteks ini adalah gambaran orang-orang yang terbuai dan mabuk oleh kenikmatan hidup sampai melupakan Penciptanya.
Melalui dahsyatnya bencana alam seperti erupsi atau gempa bumi yang dapat meruntuhkan harta benda dalam hitungan detik, Tuhan menegur manusia bahwa apa pun yang kita banggakan di bumi ini sangatlah rapuh. Bencana menelanjangi kesombongan manusia dan menunjukkan betapa kecilnya kita di hadapan-Nya.
Bahkan jika kita melihat ayat 9, kita akan melihat sebuah ironi rohani yang sungguh keji dimana Tuhan membiarkan rumah-Nya sendiri menjadi sunyi dan korban terhenti. Tuhan menegur mereka yang mengira bahwa rajin beribadah dan menjalankan ritual sudah cukup, padahal hidup sehari-hari mereka penuh dengan dosa, keserakahan, dan eksploitasi terhadap alam serta sesama. Bencana yang menghentikan aktivitas ritual merupakan teguran dan cerminan dari Tuhan bahwa Ia tidak butuh ritual keagamaan yang berasal dari hati tanpa pertobatan. Tuhan menginginkan pertobatan kita lebih dari sibuknya kita dalam agenda gereja.
Teguran Tuhan melalui bencana tidak pernah bertujuan untuk membinasakan tanpa alasan, melainkan untuk memulihkan. Ketika sukacita semu manusia dilenyapkan oleh tragedi, yang tersisa hanyalah ruang kosong di mana manusia akhirnya menyadari kelemahannya dan mau berlutut kembali. “Ratapan dan duka akibat bencana adalah awal dari kesadaran rohani.”
“Teguran Tuhan adalah bentuk kasih-Nya yang keras, Ia lebih memilih menegur kita lewat goncangan alam daripada membiarkan kita terus hidup dalam kehancuran moral dan kenyamanan yang membuat kita tidak lagi peka terhadap arahan Tuhan.“
Tuhan Yesus memberkati
YG070926
Pokok Doa SRHI GBIK
Senin, 07 September 2026
- Bersyukur penyertaan Tuhan Yesus bagi panitia HUT RI dan HUT GBIK 2026 beserta semua pelayan Tuhan yang bekerjasama dengan baik sehingga semua berjalan lancar dan memuliakan Tuhan.
- Berdoa untuk kesehatan semua penduduk NKRI yang sedang terkena dampak Abu Vulkanik akibat beberapa Gunung yang erupsi di berbagai wilayah Indonesia.
- Doakan Pemerintah Indonesia diberi hikmat dalam menghadapi bencana alam ini.
Pokok Doa untuk BPW Pemuridan, Sidikalang, Dairi – Sumatera Utara
- Berdoa untuk Jemaat yang mengalami pergumulan hidup, baik permasalahan pribadi maupun keluarga, kiranya Tuhan memberikan kekuatan iman dan jalan keluar sehingga mereka beroleh kelegaan dan sukacita dari Tuhan.
- Doakan kerinduan gereja untuk menambah alat musik dan melatih anak-anak jemaat untuk bermain musik.
- Doakan pelayanan Bpk. Samuel Paradongan Purba beserta keluarga supaya diberikan kesehatan, hikmat dan kemampuan dalam melayani Jemaat serta tercukupi segala kebutuhan sehari-hari.
