Bacaan Alkitab, Senin, 24 Agustus 2026
“Dan engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku.” (Yeh.33:7)
Ada sebuah peran yang dari dahulu kala dijalankan dengan cara yang sama, yaitu peran sebagai penjaga. Namun ada satu hal menarik untuk kita lihat dan pahami bersama mengenai peran penjaga pada konteks dan penggambaran masa lampau yaitu mengenai peran penjaga untuk berdiri melihat situasi ditembok yang tinggi. Tugasnya hanya satu yaitu berjaga untuk melihat potensi bahaya dari kejauhan dan membunyikan sangkakala. Ketika sangkakala ditiup oleh penjaga, maka bunyi sangkakala tersebut menjadi pertanda ancaman bahaya yang perlu diresponi dengan cara bangun, bersiap, bersembunyi dan berjaga. “Kehidupan ribuan orang di dalam kota sangat bergantung pada kepekaan dan kejujuran sang penjaga.” Kisah sang penjaga membawa kita kepada 2 pemaknaan yang berharga yaitu agar kita dapat memposisikan diri sebagai sang penjaga yang peduli terhadap keselamatan warganya serta menjadi warga yang peka terhadap pesan sang penjaga. Namun SRHI kali ini hanya akan berfokus pada peran sebagai penjaga sehingga kita dapat diperlengkapi untuk dapat menjadi pribadi yang peduli terhadap keselamatan jiwa dan kehidupan rohani orang-orang yang kita kasihi.
Sejujurnya kadang kala kita mengadopsi perilaku yang tidak Alkitabiah yang kita maklumi sebagai sebuah tindakan “aku hanya sedang menghindari pertikaian, perselisihan” atau “aku gamau urusin hidup orang.” Kita sering bersembunyi di balik alasan “itu pilihan hidup dia,” “bukan urusanku,” atau “siapa aku sampai berani menegur orang lain?” Namun pesan Tuhan dalam Yehezkiel 33 meruntuhkan ketidakpedulian yang seringkali kita adopsi untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
“Menjadi penjaga berarti menyadari bahwa kita saling terhubung.” Ketika kita melihat sahabat, anggota keluarga, sesama jemaat atau rekan kerja berjalan menuju kehancuran moral, ketagihanatau dosa yang merusak kehidupan mereka; lalu kita memilih diam hanya karena takut tidak disukai, maka kita sedang menukar keselamatan mereka dengan kenyamanan pribadi kita atau “keamanan semu” yang membinasakan sesama.
Ada beberapa hal yang Tuhan tekankan bagi Yehezkiel dan hal tersebut perlu kita ambil sebagai prinsip dalam menjalani kehidupan yang sesuai dengan kemauan Tuhan. Pertama, tugas penjaga bukanlah memaksa orang bertobat, melainkan menyampaikan peringatan. Kedua, jika penjaga memberi peringatan dan orang itu mengabaikannya, darah orang itu ditanggungnya sendiri. Ketiga, namun jika penjaga berdiam diri dan enggan menyuarakan kebenaran, maka kesalahan orang itu akan dituntut dari tangan penjaga. Hal-hal tersebut membawa kita untuk memiliki kepeduliaan terhadap sesama untuk membunyikan sangkakala. “Kita tidak bertanggung jawab atas bagaimana orang lain merespon kebenaran yang kita sampaikan. Mereka mungkin marah, menolak, atau menjauhi kita. Namun kita perlu sadar dan memahami bahwa tugas kita hanya memastikan sangkakala itu berbunyi dengan nyaring, jelas, dan didasari oleh kasih.”
Membunyikan sangkakala tidak sama dengan menjadi hakim yang sok suci bagi kehidupan pribadi orang yang menyalahi norma Kitab Suci. Seorang penjaga berdiri di tembok bukan karena dia lebih baik dari warga di dalam kota, melainkan karena dia ditempatkan di sana untuk melayani mereka.
“Peringatan yang disampaikan tanpa kasih hanya akan terdengar seperti kebisingan yang menghakimi. Sebaliknya, kasih tanpa kebenaran adalah pembiaran yang menyesatkan.” Menyuarakan peringatan sebagai penjaga memerlukan ketajaman melihat bahaya sebelum bahaya itu merusak orang yang kita kasihi secara permanen. Penjaga juga perlu berani menyampaikan kebenaran meski berisiko tidak diterima atau bahkan tidak didengar. Lebih dari itu seorang penjaga perlu memiliki hati yang penuh kasih sehingga ketika menyampaikan teguran, maka teguran tersebut bukan untuk memenangkan argumen, melainkan untuk menyelamatkan jiwa.
Menjadi penjaga memang tidak mudah. Kita perlu memiliki kepekaan dan kepeduliaan, selain itu kita juga perlu memiliki hati yang siap untuk menerima segala bentuk respon yang kadang kala tidak sesuai dengan maksud yang sedang kita nyatakan. Namun satu hal yang perlu kita ketahui bersama yaitu bahwa “Tuhan memanggil kita untuk peduli karena Tuhan sudah peduli.” Jika kita tau bahwa Tuhan sudah peduli dan kita dipanggil untuk peduli, maka menjadi penjaga bagi kehidupan orang disekitar kita merupakan hal yang penting yang harus kita lakukan.
“Menjadi penjaga tidak sama seperti menjadi hakim. Hakim menghakimi kesalahan, tetapi penjaga berusaha membuat orang tidak jatuh dalam kesalahan.”
Tuhan Yesus memberkati
YG240826
Pokok Doa SRHI GBIK
Senin, 24 Agustus 2026
- Mengucap syukur atas terlaksananya Ibadah Pagi 1, Sekolah Minggu, Pagi 2 dan Ibadah Sore yang sudah terlaksana dengan baik, kiranya Jemaat yang hadir diberkati dan menikmati hadirat Tuhan.
- Berdoa untuk Panitia Tolong Menolong dan Panitia Kunjungan dalam melayani jemaat yang membutuhkan, baik karena sakit, kedukaan maupun yang memerlukan jamahan kasih melalui gereja. Doakan supaya Tuhan memberikan kesehatan, kekuatan dan hikmat dalam menjalankan tugas pelayanannya.
- Berdoa untuk kondisi wilayah Kalimantan yang mengalami kebakaran hutan dan lahan, kiranya pemerintah dan lembaga terkait diberikan hikmat dan kemampuan dalam mengatasi bencana tersebut dan masyarakat diberikan kekuatan dan kesehatan dalam menghadapi udara berasap akibat kebakaran yang meluas.
Pokok Doa untuk Saudara Angkat GBI Sion Jember
- Berdoa untuk Bapak Andreas (56 tahun), yang saat ini sedang bergumul dan memiliki kerinduan untuk kembali menerima Tuhan Yesus serta membawa keselamatan bagi keluarganya. Tuhan memberikan hikmat dan kekuatan atas tekanan yang dihadapinya.
- Berdoa supaya Tuhan tambahkan jiwa-jiwa yang baru sehingga GBI Sion Jember dapat semakin berkembang.
- Doakan pelayanan Bpk. Kharis Setiawan supaya diberikan kesehatan, hikmat dan kemampuan dalam menggembalakan jemaat GBI Sion Jember.
