Bacaan Alkitab, Senin, 28 September 2026
11:15 Sesudah itu berfirmanlah TUHAN kepadaku: “Ambillah sekali lagi perkakas seorang gembala yang pandir! 11:16 Sebab sesungguhnya, Aku akan membangkitkan di negeri ini seorang gembala yang tidak mengindahkan yang lenyap, yang tidak mencari yang hilang, yang tidak menyembuhkan yang luka, yang tidak memelihara yang sehat, melainkan memakan daging dari yang gemuk dan mencabut kuku mereka. 11:17 Celakalah gembala-Ku yang pandir, yang meninggalkan domba-domba! Biarlah pedang menimpa lengannya dan menimpa mata kanannya! Biarlah lengannya kering sekering-keringnya, dan mata kanannya menjadi pudar sepudar-pudarnya!” (Zakharia 11:15-17).
Ketika kita mempelajari Alkitab, maka kita perlu melihat konteks serta prinsip pewahyuan; apakah teks tersebut bersifat khusus atau umum. Dan ketika kita membaca berbagai kisah dalam Perjanjian Lama, maka kita akan mendapati fakta bahwa kecenderungan pewahyuan dalam Perjanjian Lama bersifat khusus; salah satunya Zakharia 11:15-17 mengenai dibangkitkannya seorang gembala pandir. Namun apakah itu menandakan bahwa teks Zakharia tidak relevan bagi kita karena teks tersebut bersifat khusus/eksklusif? Tentu saja masih relevan dan bahkan dapat memberi pesan yang bermakna bagi kehidupan jika kita mencoba melihatnya dari cara Alegoris yang berorientasi pada perlambangan dari kisah yang tertulis; apalagi teks Zakharia merupakan tulisan yang berbicara banyak mengenai perlambangan nubuatan Mesianik. Sehingga dengan dasar demikian, maka kita akan menyadari bahwa teks-teks eksklusif masih memiliki pesan yang mendalam bagi kehidupan.
Jika kita melihat poin mengenai “gembala yang pandir”, maka kita perlu memperhatikan kata “gembala” yang ternyata memiliki makna “pemimpin” dan tidak selalu berintegrasi dengan sesuatu yang bersifat formal, namun juga informal. Secara general, gelar gembala tidak hanya dimiliki oleh Pendeta, tetapi juga kita sebagai pemimpin bagi keluarga, lingkungan masyarakat maupun lingkungan kerja. Gembala merupakan gelar yang dapat dipahami dari dua sudut pandang, yaitu eksklusif dan umum. Dan pada perenungan hari ini, mari kita melihatnya sebagai pemaknaan umum agar kita dapat menyadari bahwa kita juga adalah gembala yang memimpin orang-orang yang perlu kita kasihi, rawat dan pelihara.
Dengan urgensi tersebut, maka kita perlu menjadi gembala/pemimpin yang baik bagi pribadi-pribadi yang kita pimpin sehingga kita terhindar dari sifat “pandir” dan jatuh kedalam kepemimpinan yang salah. Gembala yang pandir tidak mencari yang hilang, tidak menyembuhkan yang luka, dan tidak menopang yang lemah. Gembala yang pandir hanya sibuk dengan kesibukan diri sendiri tanpa lagi peduli terhadap pribadi-pribadi yang seharusnya dikasihi. Mari kita renungkan bersama, apakah saat ini kita sedang berada didalam cara hidup yang mengabaikan sesama? Saat orang disekitar kita sedang berbeban berat, terluka secara emosional, atau melakukan kesalahan, apakah kita hadir merawat mereka? Atau kita justru mengabaikan mereka karena menganggap mereka “merepotkan” dan tidak lagi menguntungkan? Bukankah kita perlu menjadi gembala/pemimpin yang mengasihi, peduli, membalut luka dan mengulurkan tangan bagi yang menderita? Poin-poin tersebut seharusnya menjadi perenungan bagi kita agar kita dapat semakin mempedulikan sesama terkhusus pribadi-pribadi yang dipercayakan Tuhan bagi kita.
“Dimana pun kita memiliki otoritas sebagai kepala keluarga, manajer di kantor atau bahkan pemimpin pelayanan. Tetap ada benih “gembala pandir” yang siap tumbuh jika tidak dimatikan setiap hari.” – kita perlu mematikan benih-benih gembala pandir dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan dan mencari hikmat-Nya setiap saat.
“Ketika kita dipercayakan untuk menjadi pimpinan, maka langkah pertama yang harus kita lakukan adalah berserah kepada Tuhan.” – kita perlu berserah agar Tuhan yang memampukan dengan memberikan hikmat serta kebijaksanaan agar pribadi-pribadi yang Tuhan percayakan tidak kita bunuh secara perlahan dengan kerusakan mental, hilangnya kepercayaan, hilangnya kasih dan kepedulian maupun menganggap kita sebagai pemimpin yang “jarkoni – iso ngajar ora iso ngelakoni.”
Tuhan Yesus memberkati
YG280926
Pokok Doa SRHI GBIK
Senin, 28 September 2026
- Berdoa bagi seluruh anggota keluarga jemaat, baik pasangan suami istri, orang tua, anak-anak, hingga para pemuda dan remaja agar dilindungi dan dijauhkan dari pengaruh buruk dunia, hidup dalam keharmonisan, serta saling mengasihi.
- Memohon kiranya Tuhan menjaga kerukunan antarsuku, agama, ras, dan golongan (SARA) di Indonesia, serta menjauhkan bangsa dari perpecahan, konflik, maupun ancaman radikalisme.
- Berdoa bagi para Pemimpin Negara: Presiden, Wakil Presiden, para Menteri, lembaga Legislatif, Yudikatif, serta aparatur keamanan (TNI/Polri) agar diberikan hikmat, integritas, dan rasa takut akan Tuhan dalam memimpin serta mengambil keputusan yang adil.
Pokok Doa Gereja Baptis Sion Jember (Saudara Angkat GBIK)
- Berdoa untuk Bpk. Marsudi Santoso ( 69 Tahun) yang sakit diabetes, Tuhan berikan kekuatan dan tetap semangat pasca operasi amputasi jari jempol kaki kanannya.
- Doakan kerinduan Jemaat Gereja Baptis Sion untuk Pembaharuan dan memenuhi fasilitas penunjang pelayanan seperti alat musik (Keyboard, Gitar) Sound Sistem & Kipas angin.
- Berdoa untuk pelayanan Bpk. Kharis Setiawan dan Keluarga di GBI Sion Jember, Tuhan memberikan hikmat dan kemampuan serta berkat yang cukup.
