Bacaan Alkitab, Senin, 12 Oktober 2026
Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. (Markus 10:14)
Ada sebuah lagu yang seringkali dinyanyikan pada saat pernikahan, dan beginilah kira-kiranya syairnya: “bersama keluargaku melayani Tuhan, bersatu selamanya mengasihi Engkau…” lagu tersebut merupakan sebuah janji yang seringkali disampaikan dihadapan Tuhan dan jemaat-Nya disebuah acara pernikahan untuk memberi penegasan bahwa “keluarga yang hari ini disahkan Tuhan akan berusaha mengutamakan Tuhan.” Janji tersebut merupakan janji yang sangat baik dan akhirnya dapat diwujudkan dengan cara membawa anak kedalam peribadatan. Namun ada bagian penting yang perlu disadari oleh orang tua – orang tua Kristen mengenai hal ini yaitu “anak-anak datang menghadap Tuhan, bukan hanya sekadar ikut peribadatan.”
Ada pemandangan yang sangat kontras namun seringkali terlihat digereja. Di satu sisi, para orang tua membawa anak-anak mereka masuk kedalam gereja, seakan memenuhi kerinduan hati Tuhan (Mark. 10:14). Namun begitu ibadah dimulai; fokusnya berubah dan tujuannya lenyap. Fokus dan tujuan tersebut lenyap ketika para orang tua memberikan handphone kepada anak atau menyuruh anak-anak bermain diluar dengan anggapan“agar mereka tidak mengganggu orang tua.” Tindakan tersebut sebenarnya tidak hanya mendiamkan anak, namun juga mengaburkan iman anak. Anak-anak dapat bertumbuh dengan pola pikir penerimaan yang keliru dengan menganggap bahwa “bermain hp ketika beribadah adalah hal yang tidak salah” atau bisa saja menganggap bahwa “ibadah hanya untuk orang tua saja.”
Tuhan Yesus menegur para murid ketika para murid menghalang-halangi anak-anak yang ingin mendekat kepada-Nya. Namun jika kita lihat dari pemaknaannya, ternyata murid-murid yang menghalangi anak-anak tersebut terkadang adalah orang tua. Teguran itu seolah menemukan bentuk yang lain. Dan tanpa sadar para orang tua bisa menjadi “penghalang” itu. Orang tua memang membawa fisik mereka ke gereja, tetapi para orang tua membiarkan jiwa mereka berkelana di dunia maya atau bersama mainannya. Orang tua mengizinkan mereka hadir digereja, tetapi mengambil kesempatan mereka untuk bertemu dan berelasi secara nyata dengan Sang Pencipta.
Mari coba pikirkan kembali, apakah anak-anak yang kita ajak ke gereja sudah benar-benar berelasi dengan Sang Pencipta? atau sebenarnya kita hanya membawa fisik mereka namun menghalang-halangi jiwa mereka? Mari kita coba instropeksi diri, apakah ada pemahaman yang salah dalam menyikapi anak-anak dalam sebuah ibadah? Apakah mungkin kita memiliki pemahaman bahwa “anak-anak belum paham soal ibadah”, atau “anak-anak belum mengerti khotbah”, atau “anak-anak belum bisa bernyanyi.” Jika kita memiliki pemahaman-pemahaman tersebut, maka kita harus sadar bahwa anak-anak memiliki kapasitas kerohanian yang khusus dimata Tuhan; dan pastinya Tuhan tidak akan mengukur anak-anak dengan ukuran orang tua.
“Membawa anak beribadah bukan sekadar memindahkan raga mereka dari rumah kedalam gereja, melainkan menuntun hati mereka masuk ke dalam hadirat Sang Pencipta yang mengasihi mereka.” Memang tidak mudah melatih anak-anak untuk duduk tenang dan mendengarkan firman; butuh kesabaran ekstra, bisikan lembut, penjelasan sabar dan sebuah teladan. Namun satu pesan yang penting untuk kita sadari yaitu “jangan menjadi penghalang anak-anak untuk datang, biarkan mereka menikmati waktu-Nya bersama dengan Tuhan.”
Tuhan Yesus memberkati
YG121026
Pokok Doa SRHI GBIK
Senin, 12 Oktober 2026
- Mendoakan jemaat yang kembali memulai rutinitas dan beraktivitas di Minggu yang baru ini, kiranya penyertaan Tuhan ada di setiap langkah perjalanan & segala usaha para jemaat GBIK.
- Menaikkan ucapan syukur untuk pemberkatan pernikahan Pdm. Nehemia di GBIK Cabang Margamulia yang telah berjalan dengan baik & menyerahkan perjalanan pulang Pdt. Agus & Panitia PI kembali ke Jakarta kiranya dihindarkan dari segala hambatan.
- Berdoa untuk kelancaran aktivitas perekonomian di Jakarta, kiranya pembangunan infrastruktur kota yang mengambil jalan raya dapat segera selesai & berfungsi dengan baik sehingga mendukung mobilitas para pekerja.
Pokok Doa untuk BPW Pemuridan, Sidikalang, Dairi – Sumatera Utara
- Berdoa untuk jemaat yang berada di luar kota (Putri & Yove) supaya tetap memelihara imannya dan Tuhan menjaga serta melindungi mereka.
- Bersyukur buat anugrah Tuhan atas proses pembelian tanah. Doakan kiranya Tuhan menolong dalam pembuatan sertifikat boleh berjalan lancar, dan Tuhan kiranya menyediakan dana untuk pembangunan Gereja.
- Doakan pelayanan Bpk. Samuel Paradongan Purba beserta keluarga supaya Tuhan berikan kesehatan, hikmat dan kemampuan dalam menggembalakan jemaat, serta tercukupi semua kebutuhan hidup sehari-hari.
